Penyakit TBC atau tubercolosis adalah salah satu penyakit yang menjadi masalah utama kesehatan mayarakat. Penyakit yang disebabkan oleh agen Mycrobacterium tubercolosis ini adalah salah satu penyakit berbasis lingkungan yang masih banyak diderita oleh masyarakat Indonesia.
Siapapun dan dimana pun Anda berada bisa mengidap penyakit TBC, akan tetapi faktor faktor tertentu dapat meningkatkan risiko penyakit ini. Faktor-faktor penyebab TBC meliputi:
1.Sistem imun yang lemah
Sistem kekebalan tubuh menjadi faktor penting untuk menjaga tubuh dari serangan bakteri TBC. Tidak sedikit penderita TBC yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga tidak dapat melawan bakteri penyebab TBC tersebut.
Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah pada umumnya memiliki kondisi sebagai berikut:
- Seorang pengidap HIV / AIDS
- Diabetes atau kencing manis
- Penderita ginjal stadium akhir
- Mereka yang mengkonsumsi beberapa obat yang dipakai untuk mengobati penyakit Crohn, rheumatoid arthritis dan psoriasis
- Malnutrisi
- Jenis penyakit kanker tertentu
- Orang yang sedang menjalani terapi pengobatan kanker, seperti kemoterapi
- Mengkonsumsi obat untuk mencegah penolakan transplantasi organ
- Mereka yang berusia sangat muda ataupun terlalu tua.
- Perokok
Merokok sangat meningkatkan risiko seseoang terkena TBC.
- Narkoba
Penyalahgunaan narkoba ataupun alkohol dapat membuat sistem imunitas tubuh menjadi lemah. Hal ini dapat membuat tubuh anda lebih rentan terserang TBC.
Diagnosis Penyakit TBC
Berikut pemeriksaan yang dapat anda jalani:
- Tes Mantoux atau Tuberculin Skin Test
Tes Mantoux umumnya digunakan untuk menguji keberadaan TB laten. Dalam tes ini, dokter akan menyuntikkan substansi tuberkulin PPD ke lapisan kulit dan memantau reaksi kulit dalam 2 hingga 3 hari.
Ukuran pembengkakan pada bagian yang disuntik akan mengindikasikan kemungkinan Anda menderita TB. Jika seseorang mengalami infeksi TB yang aktif, reaksi kulit akan lebih signifikan.
Berbeda dengan orang yang telah menerima vaksin TB, dia hanya akan mengalami reaksi kulit yang tergolong ringan. Tetapi ini bukan berarti Anda pasti mengalami TB laten.
- X-ray
Apabila Anda mengidap TB, foto hasil tes akan menunjukkan perubahan pada paru-paru yang khas untuk TB. Langkah ini biasanya dilakukan sebelum pemeriksaan lainnya.
- Pemeriksaan Sampel Dahak
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengecek keberadaan basil Mycobacterium tuberculosis. Pemeriksaan sampel dahak juga bisa digunakan untuk menguji basil TB yang resistan atau sensitif terhadap antibiotik tertentu.
- Tes Darah IGRA (Interferon gamma release assay)
Interferon-Gamma Release Assays (IGRA) adalah pemeriksaan darah yang digunakan untuk membantu dalam diagnosis penyakit Tuberkulosis (TB) maupun Infeksi Laten Tuberkulosis (LTBI). Pemeriksaan ini mengukur respon imun seluler terhadap M. Tuberculosis (M. TBC). Sel leukosit dari seseorang yang terinfeksi M. Tuberculosis akan melepaskan interferon-Gamma (IFN-y) apabila diberikan antigen dari M. Tuberculosis. Selanjutnya jumlah Interferon-Gamma (IFN-y) ini diukur untuk menentukan interpretasi hasil pemeriksaan.
Center for Disease Control (CDC) USAt merekomendasikan penggunaan Tes IGRA pada segala kondisi dimana pemeriksaan Tuberculin Skin Test (TST) / Mantoux biasa digunakan, kecuali pada anak usia kurang dari 5 tahun. Tes IGRA dianjurkan untuk orang yang pernah mendapatkan vaksinasi BCG atau orang yang tidak mungkin datang kembali untuk pembacaan hasil TST.
Tes IGRA tidak memerlukan persiapan khusus. Pasien tidak diharuskan puasa sebelumnya kecuali ada pemeriksaan lainnya yang mempersyaratkan puasa. Sampel pemeriksaan diambil dari darah (whole blood) sebanyak 3 mL, kemudian ditempatkan dalam tabung khusus untuk Tes IGRA.
Obat Sakit TBC
Penyakit yang tergolong serius ini dapat disembuhkan dan jarang berakibat fatal jika diobati dengan benar. Langkah pengobatan yang digunakan adalah pemberian antibiotik yang harus dihabiskan oleh pengidap TB selama jangka waktu tertentu sesuai resep dokter.
Jenis-jenis antibiotik yang digunakan umumnya adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide dan ethambutol. Sama seperti semua obat-obat lain, antibiotik untuk TB juga memiliki efek samping, terutama rifampicin, isoniazid, dan ethambutol.
Rifampicin dapat menurunkan keefektifan alat kontrasepsi yang mengandung hormon. Sementara ethambutol dapat memengaruhi kondisi penglihatan pengida dan isoniazid berpotensi merusak saraf.
Sejumlah efek samping lain dari obat-obatan TB meliputi mual, muntah, penurunan nafsu makan, sakit kuning, urine yang berwarna gelap, demam, ruam, serta gatal-gatal pada kulit.
Masa penyembuhan TB berbeda-beda pada tiap pengidap dan tergantung pada kondisi kesehatan pengidap serta tingkat keparahan TB yang dialami. Kondisi pengidap umumnya akan mulai membaik dan TB berhenti menular setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 minggu. Tetapi untuk memastikan kesembuhan total, pengidap TB harus menggunakan antibiotik yang diberikan dokter selama 6 bulan.
Apabila pengidap tidak meminum obat sesuai resep dokter atau berhenti meminumnya sebelum waktu yang dianjurkan, bakteri TB bisa tidak hilang sepenuhnya meski pengidap merasa kondisinya sudah membaik.
Infeksi TB yang diidap juga berpotensi menjadi resistan terhadap antibiotik. Jika ini terjadi, TB akan menjadi lebih berbahaya dan sulit diobati sehingga masa penyembuhanpun akan jauh lebih lama.



