TBC atau tuberkulosis disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat menyebar dari orang ke orang melalui udara. Seseorang yang terinfeksi TBC (paru-parunya terinfeksi bakteri penyebab TBC) dapat batuk, bersin, bahkan berbicara dengan melepaskan bakteri tersebut ke udara, sehingga bisa menularkan ke orang sekitarnya.
Hal ini lebih mungkin terjadi jika Anda tinggal di tempat yang padat penduduk di mana banyak penderita TBC atau jika Anda dekat dengan penderita TBC di mana ruangan tersebut tidak memiliki ventilasi yang baik. Bakteri yang masuk ke dalam tubuh Anda ini kemudian dapat tinggal di paru-paru. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat dengan mudah terinfeksi dan memunculkan gejala TBC aktif.
TBC paru yang tidak diobati kemudian dapat menyebar bagian tubuh lainnya di luar paru melalui aliran darah. Salah satunya adalah menyebar ke tulang, membuat tulang menjadi sakit dan menyebabkan TBC tulang. Hampir semua tulang dapat terkena, namun tulang yang paling sering diserang adalah tulang belakang dan persendian, seperti pinggul, lutut, kaki, siku, pergelangan tangan, dan bahu.
Meskipun sekitar setengah dari semua penderita tuberkulosis (TBC) tulang juga pernah terinfeksi TBC paru, namun biasanya saat mengalami tuberkulosis tulang, penyakit TBC paru sudah tidak aktif lagi.
Sehingga, kebanyakan penderita tuberkulosis tulang tidak mengalami gejala batuk dan tidak menduga bahwa mereka menderita TBC. Karena kebanyakan penderita tuberkulosis tulang tidak mengalami batuk yang dapat menyebarkan partikel virus aktif, sehingga tuberkulosis tulang umumnya tidak menular.
Berikut ini adalah beberapa gejala yang mungkin timbul pada penderita TBC:
- Keringat dingin
Keringat dingin biasa terjadi di malam hari, tetapi tidak menutup kemungkinan hal ini pula terjadi di siang hari. Penderita penyakit ini biasanya lebih sering merasakan tubuhnya sangat dingin padahal suhu tubuhnya saja sangat panas, begitulah seorang yang menderita TBC.
- Badan terasa pegal-pegal
Selain itu badan pun akan mudah terasa pegal-pegal pada saat menderita TBC paru ini, karena TBC paru tidak hanya menyerang bagian paru saja tetap ada beberapa bagian yang dimana bakteri itu menyebar hampir ke seluruh tubuh, sehingga orang yang menderita penyakit ini akan merasakan lelah dan pegal serta capek seluruh tubuh.
- Sesak nafas
penyebab dari sesak nafas itu sendiri adalah bakteri yang menyerang paru sehingga dada menjadi sesak, atau sesak nafas. Dada terasa sakit ini pun mnejadi penyebab terjadinya sesak nafas, oleh sebab itu lebih baik belajarlah untuk mengatur nafas sendiri agar ketika nafas mulai sesak dapat mengaturnya dengan baik.
Hal tersebut dapat dipelajari dari cara mengatur pernafasan ketika sedang sesak nafas, seperti angkat tangan lallu bernafas dan sebagainya. Selain itu ketika sesak nafas jangan manja hanya diam saja di rumah atau tidur dikamar, usahakan jalan-jalan untuk menghirup udara yang segar agar bakteri penyebab TBC itu dapat dimusnahkan dan dapat sembuh TBC nya.
Karena dengan oksigen yang cukup tentunya dengan oksigen yang bersih ini akan membantu mengurangi sesak nafas. Seperti layaknya orang yang sesak nafas akan dibawa kepantai untuk mengobati sesak nafasnya. Begitu pula cara menagani sesak nafas pada penderita TBC ini.
Komplikasi Penyakit TBC
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut:
- Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas.
- Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.
- Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).
- Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
- Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru.
- Pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
- Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit.
Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.
Perjalanan Alamiah TB yang Tidak Diobati:
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan meninggal, 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai ?kasus Kronik? yang tetap menular (WHO 1996).
Proses Diagnosis Tuberkulosis
Tuberkulosis termasuk penyakit yang sulit untuk terdeteksi. Dokter biasanya menggunakan beberapa cara untuk mendiagnosis penyakit ini, antara lain:
- Rontgen dada.
- Tes Mantoux.
- Tes darah.
- Tes dahak.
Pengobatan TBC
Penderita Tuberkulosis sebaiknya mengunjungi rumah sakit atau puskesmas, untuk mendapatkan penanganan yang tepat.Petugas medis akan memeriksa dahak pasien di laboratorium, biasanya hingga 3 kali. Selama masa pengobatan ini, petugas puskesmas juga mengecek lingkungan di rumah pasien.
Jika hasil tes laboratorium menyatakan positif terhadap tes dahak yang telah dilakukan, maka pengobatan TB paru akan diberikan oleh pihak medis selama 6 bulan. Pada masa pengobatan pertama, urin penderita menjadi berwarna merah. Hal ini disebabkan oleh penggunaan obat TB yang dikonsumsi oleh pasien. Pada periode kedua, urin penderita akan berwarna kuning.
Pasien harus mengikuti prosedur yang ditentukan oleh pihak medis. Minum obat harus teratur. Jika tidak, pengobatan harus diulang prosedurnya. Penyakit TBC kronis membutuhkan masa penyembuhan yang sangat lama, sekitar 2 tahun tanpa jeda pengobatan.



