Cacingan merupakan salah satu masalah utama kesehatan anak di Indonesia. Sanitasi yang buruk dan masih kurangnya kesadaran pola hidup bersih merupakan penyebab utama tingginya jumlah penderita penyakit ini.
Seseorang dikatakan menderita cacingan apabila didalam tubuhnya (perutnya) terdapat cacing. Cacing di dalam perut ini bisa keluar dari mulut, hidung atau saat buang air besar dan jika dilakukan pemeriksaan pada tinjanya terdapat telur cacing.
Walaupun tidak menyebabkan kematian, penyakit cacingan perlu ditangani dengan serius karena dapat mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit dan terhambatnya tumbuh kembang anak, karena cacing mengambil nutrisi yang penting bagi tubuh, misalnya protein, karbohidrat dan zat besi.
Gejala Penyakit Cacingan
Pada kasus infeksi cacing ringan, tanpa gejala atau kadang tidak menimbulkan gejala nyata. Gejala lan yang harus dikenali adalah lesu, tak bergairah, suka mengantuk, badan kurus meski porsi makan melimpah, serta suka menggaruk-garuk anusnya saat tidur karena bisa jadi itu pertanda cacing kremi sedang beraksi. Gangguan ini menyebabkan, kurang zat gizi, kurang darah atau anemia.
Berkurangnya zat gizi maupun darah, keduanya berdampak pada tingkat kecerdasan, selain berujung anemia. Anemia akan menurunkan prestasi belajar dan produktivitas. Menurut penelitian, anak yang kehilangan protein akibat cacing tingkat kecerdasannya bisa menurun. Anemia kronis bisa mengganggu daya tahan tubuh anak usia di bawah lima tahun (balita).
Tetapi pada kasus-kasus infeksi berat bisa berakibat fatal. Ascaris pada cacing dapat bermigrasi ke organ lain yang menyebabkan peritonitis, akibat perforasi usus dan ileus obstruksi akibat bolus yang dapat berakhir dengan kematian.
Infeksi usus akibat cacingan, juga berakibat menurunnya status gizi penderita yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun, sehingga memudahkan terjadinya infeksi penyakit lain, termasuk HIV/AIDS, Tuberkulosis dan Malaria.
Jenis penyakit parasit ini kecil sekali perhatiannya dari pemerintah bila dibandingkan dengan HIV/AIDS yang menyedot anggaran cukup besar, padahal semua bentuk penyakit sama pentingnya dan sikap masyarakat sendiri juga tak peduli terhadap penyakit jenis ini.
Empat jenis cacing yang paling umum menginfeksi manusia dan cara penularannya:
- Cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)
Di Indonesia penderita infeksi cacing tambang tinggi di daerah pedesaan, terutama perkebunan. Infeksi cacing ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat desa yang buang air besar di tanah dan pemakaian feces sebagai pupuk.
Cara penularannya melalui larva cacing yang ada di tanah masuk ke kaki manusia yang tidak menggunakan alas kaki dan menembus kulit kaki lalu masuk ke paru-paru melalui sirkulasi darah. Larva kemudian bergerak ke saluran udara menuju tenggorokan dan tertelan lalu menuju ke usus kecil, melekat pada dinding usus dan berkembang menjadi cacing dewasa.
Cacing dewasa ini akan menghisap darah dari dinding usus sehingga menyebabkan perdarahan di usus yang ditempati.
Saat usia lima bulan cacing betina mulai bertelur, telur ini akan dikeluarkan dari tubuh penderita lewat tinja. Jika tinja jatuh ke tanah dan cuaca hangat, telur cacing akan menetas menjadi larva dalam waktu sekitar dua hari.
Larva kemudian menjadi dewasa dalam seminggu, dan dapat bertahan untuk waktu yang lama jika kondisi mendukung. Gejala spesifik infeksi cacing tambang yaitu anemia dan keluhan terkait peradangan usus seperti mual, sakit perut, kembung dan diare.
- Cacing gelang (Ascaris Lumbricoides)
Cacing gelang adalah cacing yang paling umum menginfeksi manusia. Cara penularannya melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi telurnya. Dalam usus halus, telur akan menetes dan keluar larva yang dapat menembus usus, mengikuti aliran darah menuju jantung kanan lalu ke paru.
Larva dapat merangsang laring sehingga terjadi batuk dan dapat masuk ke dalam saluran cerna melalui kerongkongan. Larva menjadi cacing dewasa di dalam usus halus, dan dalam usia 2 bulan akan bertelur. Dalam sehari seekor cacing gelang betina dapat bertelur hingga 200.000 telur, yang kemudian dibuang ke dalam tinja dan menetas di dalam tanah.
Infeksi ringan cacing gelang biasanya tidak menimbulkan gejala sedangkan pada infeksi yang parah akan menimbulkan gejala gangguan gastrointestinal, kurang gizi, perut buncit dan lesu/ kurang semangat.
- Cacing kremi (Enterobius vermicularis)
Cara penularannya melalui tangan yang memegang benda seperti baju, kasur, bantal, mainan, uang, peralatan makan, peralatan mandi/toilet, dll yang telah tercemar telur cacing kremi. Kemudian telur cacing yang menempel di tangan tersebut masuk ke dalam tubuh ketika orang tadi memasukan tangannya ke mulut.
Telur cacing lalu menetas dalam usus kecil, bergerak turun ke usus besar dan melekat disana sampai menjadi dewasa. Cacing dewasa lalu bergerak ke sekitar dubur dan bertelur, telur ini dapat bertahan hidup selama tiga minggu.
Saat itulah penderita akan mulai merasakan gatal-gatal di sekitar anus yang biasanya lebih intens di malam hari, sehingga menyebabkan gelisah dan sukar tidur, ini merupakan gejala khas infeksi cacing kremi.
- Cacing cambuk (Trichuris trichiura dan Trichinella spiralis)
Cacing cambuk banyak ditemukan di daerah tropis, seperti di Indonesia. Daur hidup cacing cambuk mirip dengan daur hidup cacing gelang, hanya pada cacing cambuk tidak ada siklus paru. Jadi cacing langsung ke perut tanpa melewati paru-paru dan tenggorokan.
Cacing ini tinggal di usus besar dan terkadang di usus buntu. Gejala yang timbul bisa berupa nyeri perut/ nyeri ulu hati, diare dengan mukus/ lendir kental dan licin, kotoran disertai sedikit darah, anemia ringan, kehilangan nafsu makan penurunan berat badan, terjadi prolaps rektum (penonjolan di daerah anus).



