Insomnia merupakan gejala yang dialami oleh orang yang mengalami kesulitan kronis untuk tidur, sering terbangun dari tidur, dan tidur singkat atau tidur nonrestoratif. Insomnia adalah kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur yang bisa bersifat sementara atau persisten.
Insomnia dapat menyerang semua golongan usia, tak terkecuali remaja yang cenderung memiliki pola tidur berbeda dari golongan usia lainnya dikarenakan perubahan hormonal pada masa pubertas yang mengakibatkan pergeseran ritme suhu tubuh atau biasa disebut irama sirkadian.
Secara umum golongan remaja merasa terbiasa dengan rasa kantuk dan merasa kemampuan akademik, produktivitas kerja, kreativitas, maupun kemampuan komunikasinya tidak menurun.
Penyebab Insomnia
Penyebab seseorang mengidap insomnia bisa bermacam-macam. Berikut adalah penyebab penyakit insomnia:
- Obat-obatan
Beberapa jenis obat (baik yang dijual bebas di apotek atau harus dengan resep dokter) memiliki efek samping yang bisa menyebabkan insomnia bagi orang yang mengonsumsinya.
- Pola hidup yang buruk
Insomnia dapat dipicu oleh kebiasaan atau pola hidup tertentu yang kita jalani, salah satunya adalah waktu tidur yang tidak tetap. Waktu tidur kita yang terus berubah-ubah dapat menyebabkan ritme sirkadian yang berfungsi mengatur metabolisme tubuh, termasuk siklus tidur dan bangun, menjadi terganggu.
Contoh insomnia seperti ini kerap dialami oleh orang-orang yang bekerja dengan waktu yang tidak tetap, mereka yang memiliki kebiasaan tidur siang untuk mengganti kekurangan waktu tidur malam, dan mereka yang mengalami desinkronosis atau pengar setelah melakukan penerbangan jarak jauh.
Mengonsumsi makanan dalam porsi besar juga dapat membuat seseorang sulit tidur. Perut yang terlalu kenyang dapat membuat tubuh tidak nyaman saat direbahkan. Tidur tidak lama setelah makan juga dapat berpotensi menyebabkan sakit ulu hati. Tentu saja dengan kondisi-kondisi tersebut, tidur akan terganggu.
Sama seperti makanan berporsi besar, konsumsi minuman berkafein secara berlebihan, nikotin, dan minuman beralkohol sebaiknya dihindari menjelang waktu tidur. Alkohol memang mengandung zat penenang yang dapat membantu mempercepat tidur Anda, namun tidak bisa membuat Anda tidur hingga mencapai tahap yang lebih lelap.
- Faktor lingkungan
Lingkungan kamar tidur yang tidak nyaman dapat mengganggu tidur seseorang, seperti suhu kamar yang terlalu dingin atau panas, suara bising, dan cahaya lampu yang terlalu terang.
- Masalah psikologi
Masalah psikologi sering kali menjadi faktor utama munculnya gejala insomnia, salah satunya adalah stres. Banyak orang yang tidurnya menjadi terganggu karena mengalami stres. Contoh-contoh pemicu stres bisa bermacam-macam.
Ada stres akibat sekolah, pekerjaan, masalah keuangan, dan stres akibat hubungan keluarga dan sosial. Selain stres, depresi akibat kehilangan orang terdekat, kehilangan pekerjaan, atau kehilangan hal lain yang berharga juga bisa menyebabkan insomnia. Insomnia juga bisa disebabkan oleh kecemasan
Orang yang dihinggapi rasa cemas akan sulit untuk memulai tidur. Selain itu, rasa cemas juga dapat membuat seseorang menjadi kesulitan mempertahankan tidur, sehingga dia sering terbangun di tengah malam dan sulit untuk tidur kembali.
Contoh-contoh rasa cemas bisa bermacam-macam, di antaranya cemas akan kondisi keuangan, masa depan, dan cemas dalam memikul tanggung jawab. Bahkan rasa cemas dan panik karena tidak bisa tidur pun dapat membuat seseorang benar-benar tidak bisa tidur.
Selain stres atau cemas, masalah psikologi lainnya yang dapat menyebabkan insomnia adalah penyakit mental, seperti skizofrenia dan gangguan bipolar.
Pengaruh Penyakit Insomnia
Berikut adalah beberapa pengaruh yang diakibatkan oleh penyakit insomnia:
- Keinginan makan berlebih
Sejumlah penelitian menemukan kaitan antara insomnia dengan kegemukan. Ternyanya, kurang tidur bisa memicu seseorang merasa lapar Sebuah studi 2012 menunjukkan kurang tidur meningkatkan hormon ghrelin yang memberikan sinyal rasa lapar. Selain itu, orang yang insomnia cenderung memilih makanan yang asin dan manis saat lapar.
- Sulit konsentrasi
Insomnia juga dikenal berdampak buruk bagi fungsi kognitif. Contohnya, menjadi sulit berkonsentrasi sehingga meningkatkan risiko kecelakaan saat mengemudi. Kurang tidur juga membuat otak terasa lelah yang membuat seseorang tak mampu berpikir dengan baik.
- Meningkatkan kecemasan
Insomnia membuat seseorang lebih muda cemas atau khawatir terhadap sesuatu. Akibat kurang tidur, hormon kortisol yang dikenal dengan hormon stres akan semakin meningkat. Detak jantung dan tekanan darah tinggi juga meningkat. Mengatasi stres bisa menjadi salah satu cara mencegah insomnia.
- Marah tanpa alasan
Menurut ahli gangguan tidur, Profesor Throne, kurang tidur benar-benar dapat memengaruhi kesehatan otak. Penelitian menunjukkan, orang yang insomnia cenderung akan sangat sensitif sehingga mudah marah denga hal-hal yang sepele, dan suasana hatinya kurang positif. Menurut beberapa ilmuwan, kondisi itu terjadi karena kurang tidur mempengaruhi amigdala, bagian otak yang terkait dengan emosi.
- Kerusakan kulit
Ketika tidur, tubuh juga akan memperbaiki sel-sel dan jaringan kulit. Jadi, bila kurang tidur akibat insomnia dapat merugikan kesehatan kulit karena produksi kolagen menurun. Akibatnya, penuaan akan lebih cepat terjadi pada kulit.



