Gagal Ginjal Kronik Menyebabkan Hipertensi

Di dalam ginjal terdapat jutaan pembuluh darah kecil yang berfungsi sebagai penyaring guna mengeluarkan produk sisa darah. Jika pembuluh darah di ginjal rusak, maka kemungkinan aliran darah berhenti membuang limah dan cairan esktra dari tubuh.

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko penyakit ginjal kronik, yaitu diabetes, hipertensi, infeksi pada ginjal. Penyakit ini juga sangat terkait dengan gaya hidup. Pola makan, stres dan kebiasaan minum jamu yang tidak jelas bisa meningkatkan resiko penyakit ini.

Selain itu orang yang mengidap kondisi atau memiliki kebiasaan tertentu lebih berisiko mengidap hipertensi, yaitu: kurang berolahraga, kebiasaan merokok, stres, obesitas, mengonsumsi minuman keras berlebihan, usia tua, terdapat anggota keluarga yang dulu mengidap hipertensi, terlalu banyak garam dan lemak dalam makanan yang dikonsumsi.

Bila ekstra cairan di dalam pembuluh darah meningkat, maka bisa meningkatkan tekanan darah. Hipertensi pada dasarnya merusak pembuluh darah. Jika pembuluh darahnya ada pada ginjal, tentu ginjalnya yang mengalami kerusakan.

Belum lagi salah satu kerja ginjal adalah memproduksi enzim angio tension. Selanjutnya diubah menjadi angio tension II yang menyebabkan pembuluh darah mengkerut atau menjadi keras. Pada saat seperti inilah terjadi hipertensi.

Hipertensi bisa berakibat gagal ginjal. Sedangkan bila sudah menderita gagal ginjal sudah pasti terkena hipertensi. Bahkan hipertensi pada gilirannya menjadi salah satu faktor risiko meningkatnya kematian pada pasien hemodialisis (pasien ginjal yang menjalani terapi pengganti ginjal dengan cara cuci darah/hemodialisis di rumah sakit).

Naiknya tekanan darah di atas ambang batas normal bisa merupakan salah satu gejala munculnya penyakit pada ginjal. Beberapa gejala-gejala lainnya seperti berkurangnya jumlah urine atau sulit berkemih, edema (penimbunan cairan) dan meningkatnya frekuensi berkemih terutama pada malam hari.

Bila sudah dinyatakan gagal ginjal tahap akhir, maka pasien harus menjalankan terapi pengganti ginjal seumur hidupnya. Ada 3 jenis terapi pengganti pengganti ginjal yaitu Transplantasi (cangkok ginjal), Hemodialisis (sering disebut cuci darah), Peritoneal Dialisis (CAPD = continous ambulatory peritoneal dialysis) yang semuanya membutuhkan dana yang cukup besar.

Hipertensi pada penyakit ginjal dapat dikelompokkan, diantaranya:

  1. Pada Penyakit Glomerulus Akut : Nefropati, Membranosa, GN pasca Streptokokkus
  2. Penyakit Glomerulus Kronik: Tekanan darah tinggi (normal antara 120/80 mmHg sampsi 130/90 mmHg)

Tekanan darah yang ditemukan biasanya normal tinggi dibandingkan dengan kontrol normal.

Dalam memberikan terapi pasien hipertensi pada penyakit ginjal, maka pengobatan harus disesuaikan pada tiap-tiap kelompok.

Terapi hipertensi pada kolompok penyakit glomerulus akut diberikan diuretik agar dapat mengurangi juga edema yang terjadi pada kelompok ini. Selain itu pengurangan cairan dapat dilakukan dengan dialisis mampu membuat tekanan darah menurun. Sedangkan pada hiperyensi pada penyakit glomerulus kronik dapat juga dilakukan terapi sama seperti pada hipertensi pada penyakit glomerulus akut.

Hipertensi dapat terjadi karena terdapat adanya retensi natrium yang membuat hipervolemi. Retensi natrium ini terjadi karena akibat dari adanya peningkatan reabsorbsi Na di duktus koligentes.

  1. Pada Gagal Ginjal Kronik : Gagal ginjal kronik stadium III-V

Hipertensi karena hal2 berikut, yaitu retensi natrium, Hiperparatiroid sekunder, pemberian eritropoetin, aktifitas saraf simpatik yang meningkat karena kerusakan ginjal, & peningkatan sistem RAA karena iskemi relatif sebab kerusakan regional.

  1. Pada Penyakit Vaskular : Skleroderma, Vaskular

Pada kondisi ini terjadi iskemia yang kemudian merangsang sistem RAA. Perlu diketahui bahwa sistem RAA sangat berperan dalam memelihara hemodinamik & homeostasis kardiovaskular.

Perlu anda ketahui jika sudah terkena penyakit maka sulit untuk di sembuhkan. Maka dari itu sayangi diri anda selagi masih sehat, konsumsi makanan yang baik buat kesehatan. Jika sudah terkena penyakit, apalagi penyakit yang sulit untuk di sembuhkan maka anda akan rugi sendiri, semoga uraian tentang Hipertensi pada penyakit ginjal kronik di atas dapat bermanfaat.

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hot News!

Jangan lupa kunjungi situs informatif lainnya :

https://bacaanasik.cc/

https://www.jerami.info/

https://www.beritamandiri.co/

https://wisataku.blog/

https://sakitpunggung.org/

https://www.badlegaindia.org/

https://infogadget.club/

https://diujunglangit.com/

https://www.beritaboladunia.net/

https://sboplaza.com/

https://www.wibawanews.net/

https://www.sahamgoodwin.com/

https://www.bitwinshop.com/

https://artlinearsitek.com/

https://ingapak.com/

https://pengobatan.tips/

https://usaha2018.com/

https://adeide.com/

https://daraprayoga.com/

https://idwebshare.net/

https://aribicara.com/

https://buletinunik.com/

https://lingkupberita.com/

https://tempatketawa.com/

https://passionmagz.com/

https://motzter.com/

https://www.museswonderland.com/

https://www.fandyhutari.com/

https://gambardp.com/

https://sbc-superbiocollagen.com/

https://artisip.net/

https://www.lyricstunes.net/

https://gotocirebon.com/

https://bayugawtama.com/

https://www.enterberita.com/

https://viclindsay.com/

https://wazobians.com/

https://tokojeremy.com/

https://qncobatmaag.com/

https://obatmataminusgw.com/