Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit yang parah karena penyakit ini juga menular pada orang lain. negara di asia tenggara termasuk negara negara yang banyak penderita penyakit Tuberkulosis termasuk indonesia.
Tidak sedikit penduduk indonesia yang menderita penyakit Tuberkulosis akibat dari kondisi lingkungan yang kurang bersih dan juga dari faktor daya tahan tubuh yang baik, maka dari itu Tuberkulosis bisa dialami dengan mudah.
Penyakit Tuberkulosis bisa lebih mudah dialami oleh seseorang yang memiliki dayan tahan tubuh lemah, karena penyebab dari penyakit Tuberkulosis yang pertama yaitu karena disebabkan oleh penyakit Tuberkulosis oleh bakteri.
Paru paru yang di masukkan oleh bakteri yang bisa menyebabkan penyakit Tuberkulosis. Infeksi dari bakteri bisa menyebabkan penyakit Tuberkulosis, maka dari itu daya tahan tubuh yang kuat perlu sekali melindungi tubuh.
Penyakit Tuberkulosis paru-paru sifatnya menular dengan perantara batuk, bersin atau lainnya yang mengakibatkan bakteri tuberculloa berpindah. Bakteri tersebut mengendap dan berkumpul di paru-paru.
Selain paru-paru, basil Tuberkulosis juga bisa menyerang tulang, otak, sistem pencernaan, kelenjar getah bening, sistem saluran kemih, serta sistem saraf.
Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis
Pada tahun 2007, prevalensi Tuberkulosis per 100.000 orang tertinggi di Afrika sub-Sahara, dan relatif tinggi di Asia. Kurang lebih sepertiga dari populasi dunia pernah terinfeksi “M. tuberculosis.†Satu infeksi baru muncul setiap detik dalam skala global. Bagaimanapun, kebanyakan infeksi oleh “M. tuberculosis†tidak menyebabkan penyakit Tuberkulosis, dan 90–95% dari infeksi tetap asimptomatik.
Pada tahun 2007, diperkirakan ada 13,7 juta kasus kronis aktif. Pada tahun 2010, terdapat 8,8 juta kasus baru Tuberkulosis yang didiagnosis, dan 1,45 juta kematian, kebanyakan dari jumlah ini terjadi di negara-negara berkembang. Dari seluruh 1,45 juta kematian, sekitar 0.35 juta terjadi pada penderita yang juga terinfeksi HIV.
Tuberkulosis merupakan penyebab umum kematian yang kedua yang disebabkan oleh infeksi (setelah kematian oleh HIV/AIDS). Angka pasti dari kasus tuberkulosis (“prevalensi”) sudah menurun sejak tahun 2005. Kasus tuberkulosis baru (“kejadian”) telah menurun sejak tahun 2002. Cina khususnya telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa.
Cina telah menurunkan laju kematian akibat Tuberkulosis mendekati 80% antara tahun 1990 dan 2010. Tuberkulosis lebih umum muncul di negara berkembang. Kurang lebih 80% dari populasi di berbagai negara Asia dan Afrika memberikan tes tuberkulin positif, tetapi hanya 5–10% dari populasi di AS memberikan hasil tes positif.
Para ahli berharap bahwa Tuberkulosis dapat dikendalikan secara penuh. Bagaimanapun, sejumlah faktor menyebabkan pengendalian Tuberkulosis menjadi tidak mungkin. Vaksin yang efektif sangat sulit dikembangkan.
Sangat mahal dan memakan waktu lama untuk mendiagnosis penyakitnya. Pengobatan memerlukan waktu beberapa bulan. Lebih banyak orang yang terinfeksi HIV menderita Tuberkulosis. Tuberkulosis yang resisten terhadap obat muncul pada tahun 1980an.
Angka tahunan laporan kasus baru Tuberkulosis. Data dari WHO.
Pada tahun 2007, negara dengan perkiraan tingkat insiden tertinggi adalah Swaziland, dengan 1.200 kasus per 100.000 orang. India memiliki total insiden terbesar, dengan estimasi 2,0 juta kasus baru. Di negara maju, tuberculosis tidak umum dan kebanyakan ditemukan di wilayah urban.
Pada tahun 2010, laju Tuberkulosis per 100.000 orang di berbagai tempat di dunia adalah: di dunia 178, Afrika 332, Amerika 36, Mediterania Timur 173, Eropa 63, Asia Tenggara 278, dan Pacifik Barat 139. Di Kanada dan Australia, tuberkulosis seringkali lebih umum terdapat di antara penduduk aborigin, terutama di wilayah yang terpencil.
Di Amerika Serikat, para Aborigin mengalami laju mortalitas akibat Tuberkulosis lima kali lebih besar. Insiden Tuberkulosis bervariasi sesuai usia. Di Afrika, hal ini utamanya mempengaruhi penduduk berusia antara 12dan 18 tahun dan dewasa muda.
Bagaimanapun, di negara yang laju insidennya sudah menurun dengan tajam (seperti Amerika Serikat), Tuberkulosis umumnya merupakan penyakit pada orang yang lebih tua dan mereka dengan sistem imun rentan.
Gejala umum penyakit Tuberkulosis, di antaranya:
- Badan terasa lemah dan lesu.
- Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
- Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam
- Penurunan nafsu makan dan berat badan.
- Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu ( hati-hati jika disertai dengan darah kemungkinan besar menderita penyakit Tuberkulosis).
- Perasaan tidak enak (malaise).
Cara Mencegah Batuk Tuberkulosis
Tuberkulosis aktif sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Selain itu, jenis Tuberkulosis yang sudah aktif dapat membahayakan orang lain yang berada di sekitar penderita Tuberkulosis. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia PBB atau WHO, mengatakan jika satu pertiga penduduk dunia sudah terinfeksi oleh bakteri penyebab penyakit batuk Tuberkulosis.
Untuk menghindari infeksi bakteri Tuberkulosis menjadi Tuberkulosis aktif, lakukan hal-hal berikut ini:
- Hindari berada dalam ruangan penderita Tuberkulosis lain yang Tuberkulosis-nya sudah masuk dalam kategori Tuberkulosis aktif.apalagi jika ruangan tersebut penuh dengan berbagai barang, dan kurang ventilasi.
- Gunakan masker.
- Melakukan vaksin Tuberkulosis.



